Paradigma saat ini yang memandang batubara sebagai bahan galian umum, semestinya sudah harus dihapuskan, karena batubara sebagai sumber energi mempunyai nilai strategis dalam menentukan arah pembangunan di Indonesia. Patut disyukuri pada saat dikeluarkannya UU Minerba yang baru nuansa ini mulai dirasakan. Ekspor Indonesia yang jor-joran sehingga menduduki peringkat no 2 negara pengekspor batubara terbesar setelah Australia harus mulai dikaji dengan benar. Jangan sampai kasus minyak bumi terjadi pada batubara. Dulu Indonesia masuk anggota OPEC, sebagai negara pengekspor minyak bumi sekarang malu karena ternyata banyak impornya sehingga keluar dari negara OPEC. Jangan terjadi lagi seperti ini pada batubara, kita bukan bangsa keledai yang jatuh ke lubang yang sama dua kali.
Meningkatnya jumlah penduduk dan industri ke depan akan sangat membutuhkan energi yang banyak. Siapa yang menguasai energi dia yang akan menguasai dunia. Di Jepang tempat kita mengekspor batubara tidak pernah terjadi byar pret seperti di Indonesia, pada saat saya punya kesempatan berkunjung ke PLTU di daerah Nagasaki, pada saat dialog mereka terheran-heran ketika saya berkata kalau di Indonesia sering mati lampu. Dari penjelasan mereka, ternyata konsumsi listrik yang tinggi terjadi pada siang hari, karena banyaknya pabrik-pabrik industri yang beroperasi pada siang hari, pada malam hari justru menurun. Paradoks sekali dengan di Indonesia, yang konsumsi listriknya tinggi pada malam hari, padahal malam hari orang pada mau tidur. Ini juga mengandung pengertian kurang produktif. Pada musim panas konsumsi listrik lebih tinggi dibandingkan pada musim dingin, karena pada saat musim panas digenjot produksi. Ini dikarenakan dibutuhkannya pendingin-pendingin ruangan yang lebih banyak.
Ada yang menarik pada saat diskusi dengan seorang ahli batubara di Jepang sana, menurut hitungan dia, jika penduduk dunia di negara ketiga mempunyai kualitas hidup yang sama dengan mereka (penduduk Jepang dan negara maju lainnya), berapa energi yang dibutuhkan, dunia ini tidak akan sanggup memenuhinya. Minyak bumi dan batubara pasti habis dengan cepat. Makanya sebagian penduduk dunia harus berkorban (dikorbankan) untuk memenuhi sebagian penduduk bumi lainnya. Kasarnya jangan sampai negara dunia ketiga maju, sehingga akan membutuhkan energi yang banyak. Biarkan mereka tidak punya tv, mobil, kulkas, dan tetap miskin. Ini namanya kan neokoloniasme baru. Bedanya kalau jaman dulu lebih kasar kalau sekarang sangat halus. Makanya mereka sangat aktif membantu negara produsen untuk menjaga kebutuhan energ mereka, mereka sangat takut kalau kita berhenti menjual batubara.
Meskipun kita butuh dana untuk pembangunan, kita harus hentikan ekspor batubara sekarang juga atau kurangi ekspor sekarang juga. Ini akan menguntungkan kita, karena dengan begitu kita dapat mendorong mereka untuk memindahkan pabrik-pabriknya ke Indonesia, ke Kalimantan misalnya, jangan di Jawa sudah padat. Ini akan membuka lapangan kerja di Indonesia, mereka tidak akan rugi kok, teknologi dan merek yang punya mereka, jaman sekarang pemegang merek adalah pemegang uang. Kita juga kaya akan bahan-bahan logam jadi akan sangat menguntungkan mendirikan pabrik di Indonesia.
Mengapa kita harus menahan diri untuk tidak mengambil batubara banyak-banyak dari perut bumi Indonesia karena data di bawah ini. Baca dan maknai data cadangan batubara ini, jika gak paham juga, periksa kepala ke dokter, barangkali ada yang salah. Reserve batubara adalah batubara yang sudah diketahui jumlahnya, kualitasnya, kondisi geologinya dan penutupnya serta bisa ditambang. Jika tidak bisa ditambang dikategorikan resource atau sumberdaya.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar